Wednesday, 9 October 2013

Integritas IPTEKS Dalam Dunia Segitiga


Hal tersebut merupakan salah satu kerangka ilmu yang menghasilkan berbagai sikap yang membentuk jati diri atau hakikat dari manusia itu sendiri.

Frase ‘dunia bersudut segitiga” merupakan konsepsi penyederhanaan dari keadaan yang sebenarnya, yang tentu saja sepanjang hal hal ini dapat menyingkap misteri.

Segitiga yang tiap sudutnya menyimpan berbagai sikap memiliki saling ketergantungan dengan sudut sudut yang lainnya. Seperti intelektual yang jelas membutuhkan moralitas dalam hubungan emosional antar sesama, dan tidak lupa rasa dari tiap insane itu sendiri adalah sensibilitas. Dari ketiga sudut segitiga ini tidak hanya berdiri dengan sendirinya akan tetapi juga memiliki beberapa segitiga lain yang ditiap sudutnya terdapat ilmu yang menjelaskan kenapa moralitas dibutuhkan ataukah intelektualitas mesti ada…? Etika, filsafat, dan estetika. Ataukah tekhnologi, sains, dan seni. Kualitas seni maupun ilmu akan dapat memiliki kemajuan yang baik dengan bantuan tekhnologi. 


Dan jika kita mencermati lebih lanjut, maka keberadaan manusia berhubungan erat dengan ihsan dan iman. Kata ihsan secara harfiah berkaitan dengan keikhlasan berbuat atau berkarya, oleh karena itu sebagai manusia merasa didalam pengawasan yang maha kuasa pencipta alam semesta ini. Jadi ini adalah kesadaran batin yang terekspresi dengan sendirinya, oleh karena kita sebagai insane sadar dan faham makna keberadaan diri kita sendiri yang diamanahkan mengelola dan memelihara alam semesta ini. Pengalaman ini dapat diwujudkan dengan selalu belajar baik formal ataupun non formalatau melalui jalur filsafat, etika maupun estetika.

Maka manusia yang memiliki nilai iman, maka intelektualitas, sensibilitas, dan moralitas akan bersinergi satu sama lain, bagai suatu bangunan yang tidak sempurna jika salah satu diantara ketiganya tidak ada.

Berdasarkan keyakinan tentang kesatupaduan kebenaran, kebaikan dan keindahan dalam diri manusia, maka secara individu melalui metode induktif ita mencoba menggunakan tiga pendapat untuk ilmu pengetahuan, tekhnologi dan senisehingga terbentuk kesatuan pendapat yang disebut IPTEKS. 

1.   Al-Fatabi sebagai seorang cendikiawan islam pada masa keemasan islam menyampaikan bahwa; “ ilmu yang sebenarnya bagaikan batang tubuh penegetahuan yang terorganisir dengan baik dan sebagai disiplin ilmu akan memiliki tujuan, premis dasar dan obyek kajian serta metode ilmiah tertentu”

2.     Federick Ferre (1988) “ kecerdasan pengalaman praktis dari pengetahuan tentang ketertiban alam dan manusia yang diwujudkan dalam bentuk dunia kebendaan dan atau dunia kecerdasan.

3.   Hamka “ bahwa seni yang setinggi-tingginya adalah ketika telah berkumpul didalamnya kebenaran, keadilan, dan keindahan, yang direkat oleh cinta yang kudus.

Maka pemahaman tentang integritas IPTEKS yang utuh tidak lain adalah suatu konsepsi multi dimensi yang didalamnya memiliki nilai-nilai kebenaran (ilmu pengetahuan) kebaikan (tekhnologi) dan keindahan ( seni). 

Seni adalah muara dari perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang ketiganya akan bahu mambahu dan saling membantudan bersinergi satu dengan yang lain dalam perkembangan ilmu pengetahuan, tekhnologi, dan seni.

Aspek Etika Ilmu, Tekhnologi dan Seni

Melihat dunia secara dewasa ini dengan kemajuan peradaban manusia. IPTEKS sepertinya ditarik dalam rimba dilema. 

Penetapan ambang batas bahaya bagi suatu produk tekhnologi mencerminkan sekelumit kesadaran akan keterbatasan para ilmuan maupun tekhnologiawan betapa mereka sebetulnya tidak berkuasa penuh atas hasil ciptaan mereka.

Pendapat sementara suatu npihak mngenai adanya kecenderungan meningkatnya kkekalahan manusia kdi belakang musibah-musibah industry tekhnologi yang sering terjadi, sehingga harusnya lebih mendorong lagi akan perlunya pengawasan, baik secara eksternal maupun internal dalam penetapan hasil-hasil IPTEKS. Sebab semakin canggih suatu penemuan ilmiahdan tekhnologi, maka semakin pula peluang penemuan tersebut dengan kesalahan.

Selanjutnya, berkaitan dengan pembatas etika atas ilmu pengetahuan, tekhnologi dan seni, maka perlu jelas bagi kita bahwa yang dibatasi secara etis ialah cara memperoleh, cara pengujian dan cara penggunaan IPTEKS pada saat penerapannya dengan pihak lain. 

Para ilmuan professional dari berbagai disiplin IPTEKS, pada dasarnya sepakat bahwa disetiap cabang ilmmu, teknologi dan seni diperlikan seperangkat norma yang akan digunakan sebagai garis pembatas bagi pemberlakuan IPTEKS di lingkungan masyarakat. Hingga ada yang mengharapkan agar norma-norma itu epenuhnya merupakan tanggung jawab para ahli IPTEKS dan bebas dari pengaruh lembaga pemerintah.

Cara Meredam Pengaruh Negatif IPTEKS

Maka jelas kiranya betapa pentingnya etika IPTEKS unruk membatasi pengaruh negatif IPTEKS terhadap manusia. Yang paling urjen adalah etika menyangkut hidup mati orang banyak, masa depan, hak-hak manusia dan lingkungan hidup.dan etika akan lebih sempurna bila didukung oleh agama, moralitas, social, hokum dan pendidikan. Usaha-usaha untuk meredam pengaruh negatif IPTEKS antara lain adalah;

1.     Rahumanisasi
Mengembalikan martabat manusia dalam perkembangan ipteks modern yang sangat cepet dengan berbagai cara. 

2.     Kemampuan memilih
Dengan makin banyaknya kebolehjadian yang diakibatkan oleh IPTEKS, maka timbul kesukaran dalam memilih, meskipun pilihan relative lebih sedikit daripada kebolehjadian.  

3.     Arah perkembangan kemajuan
Beberapa ahli mengkonstalasi bahwa penyediaan kebutuhan material yang berlebihanpun tidak akan membawa kebahagiaan dan kesejahteraan, bahkan sebaliknya menimbulkan dekomposisi lingkungan, dan ketegangan-ketegangan dalam interrelasi unsur-unsur dalam ekosistem, termasuk diantara sesama manusia.

4.     Revitalisasi
Perlunya upaya positif untuk mencegah distorsi biokultural yang berkelanjutan.

No comments:

Post a Comment

Who Are You..?